Dalam kepalaku, tumbuh sebatang pohon randu. Renta dan kering. Entah berapa umurnya. Mungkin seribu tahun. Pohon itu belum mati. Tepatnya belum mau mati. Masih ada yang dinantinya.
Sekian lama dia hanya menggenggam pucuk-pucuk buahnya. Tak mau berbuah lagi. Bahkan daun-daunnya dibiarkan cokelat dan gugur. Rantingnya pun dibiarkan kurus. Patah satu-satu.
Apa kalian lihat pucuk-pucuk buahnya yang hijau? Hanya itu satu-satunya yang tersisa darinya. Di dalamnya ada kumpulan serat kapuk yang tertidur. Putih, hangat. Bayi-bayi kapuk itu menunggu. Menunggu hingga pohon randu membuka buahnya. Menunggu terbebas. Menunggu terjatuh dengan perlahan. Seperti butiran salju yang juga putih. Halus dan hangat.
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 September 2012
Jumat, 22 April 2011
METEORA (Kisah Bintang Tak Bernama)
Mari, duduklah di sini. Biar kuceritakan padamu sebuah kisah, tentang cinta sebuah bintang yang tak bernama. Ketahuilah, bahwa di langit malam yang berpendar ada jutaan bintang yang hidup dan berkembang. Salah satunya adalah dia, sebentuk bintang yang tak bernama. Tak bernama karena bintang yang layak disebut hanya mereka yang berada di pusat konstelasi, sementara dia hanya bintang paling mungil yang berjajar rapi di sudut rasi virgo. Yang setiap harinya berbaris rapi dan berotasi mendampingi Spyca, sang ratu konstelasi. Dia hanya bintang pelengkap, yang tidak dikenal, yang tidak pernah diperhitungkan.
Senin, 11 April 2011
Terjerat
Aku melihatnya, tidak sengaja, dalam keremangan malam tanpa cahaya. Buppha, ibu tiriku yang jahat, mengendap-endap seperti maling di dekat ranjang ayah. Meracik sesuatu dan memasukkannya ke dalam gelas ayah yang berisi cha yen[1]. Semalaman aku menebak-nebak apa kira-kira yang dimasukkan Buppha pada minuman itu. Tidak perlu penasaran terlalu lama, karena esoknya aku langsung mendapat jawaban.
Langganan:
Postingan (Atom)
